Oleh : Dewi Nurmalasari, M.Pd.
Salah satu contoh yang mudah diamati adalah proses perkaratan besi. Ketika pagar, paku, atau logam dibiarkan terpapar udara lembap, lama-kelamaan akan muncul lapisan karat berwarna cokelat kemerahan. Fenomena ini merupakan hasil reaksi antara besi, oksigen, dan air. Reaksitersebut berlangsung lambat, tetapi akan lebih cepat terjadi pada kondisi udara yang lembap dan panas. Dari sini, murid dapat belajar bahwa suhu dan kelembapan memengaruhi laju reaksi.
Fenomena lainnya adalah pembakaran kayu atau kertas. Kayu kering terbakar jauh lebih cepat dibanding kayu yang masih basah. Hal ini karena kandungan air dalam kayu basah menurunkan suhu pembakaran dan menghambat terjadinya reaksi antara karbon dalam kayu dengan oksigen di udara. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kenaikan suhu mempercepat laju reaksi, karena partikel bereaksi lebih aktif dan tumbukan antarpartikel menjadi lebih efektif.
Contoh lain yang menarik untuk diamati adalah potongan apel yang berubah warna menjadi cokelat setelah dikupas. Perubahan warna ini terjadi karena adanya reaksi oksidasi enzimatis antara enzim polifenol oksidase dan oksigen di udara. Reaksi ini akan lebih cepat pada suhu ruang, dan lebih lambat bila apel disimpan di kulkas. Hal ini memperlihatkan bahwa penurunan suhu dapat memperlambat laju reaksi kimia.
Fenomena tablet vitamin C effervescent yang larut lebih cepat dalam air panas dibandingkan air dingin. Reaksi antara asam sitrat dan natrium bikarbonat menghasilkan gas karbon dioksida yang terlihat sebagai gelembung. Semakin tinggi suhu air, semakin cepat reaksi berlangsung karena energi kinetik partikel meningkat sehingga tumbukan efektif lebih sering terjadi.
Dalam dunia industri, konsep laju reaksi juga diterapkan, misalnya pada katalis konverter kendaraan bermotor. Alat ini berfungsi mempercepat reaksi penguraian gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO) dan nitrogen oksida (NOₓ) menjadi gas yang tidak berbahaya. Katalis berperan menurunkan energi aktivasi reaksi tanpa ikut bereaksi secara permanen, sehingga laju reaksi meningkat tanpa mengubah produk akhir reaksi.
Fenomena serupa dapat ditemukan pada pengawetan makanan. Makanan yang disimpan di suhu rendah, misalnya di lemari pendingin, akan bertahan lebih lama karena aktivitas mikroorganisme dan enzim pembusuk berkurang. Reaksi biokimia pembusukan berjalan lebih lambat ketika suhu diturunkan, membuktikan kembali bahwa suhu berperan penting dalam mengatur kecepatan reaksi.
Dalam dunia tumbuhan, proses fotosintesis juga merupakan contoh reaksi kimia yang laju reaksinya dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Semakin besar intensitas cahaya hingga batas tertentu, semakin cepat tumbuhan dapat mengubah karbon dioksida dan air menjadi glukosa dan oksigen. Ini menunjukkan bahwa energi dari luar sistem (seperti cahaya atau panas) dapat mempercepat proses kimiawi.
Sumber: AI Genered Photosynthesis
Melalui berbagai fenomena tersebut, murid dapat memahami bahwa konsep laju reaksi tidak hanya berlaku di laboratorium, tetapi juga terjadi secara nyata di sekitar kita. Setiap perubahan dari besi berkarat hingga makanan yang membusuk — mencerminkan hubungan antara kondisi lingkungan dan kecepatan terjadinya reaksi kimia. Dengan mengamati, menanya, dan menganalisis fenomena tersebut, murid tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengaitkan ilmu kimia dengan pengalaman sehari-hari secara bermakna. (dewi)
https://nurmalasaridewi-72.medium.com/fenomena-alam-tentang-laju-reaksi-7922c92a9194
Sumber Pustaka:
Munaspriyanto, 2022. KIMIA SMA/MA XI. Jakarta: Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi
Moenandar Ismunaryo, 2018. Teori Kimia Dasar 1. Jakarta: Bina Prestasi Insani
Pertucci Ralph H, 1999. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi 4. Jakarta: Penerbit Erlangga
Komentar Terbaru