Oleh : Yupiter Sulifan, Guru BK Smanita
Gelombang percakapan tentang rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 merebak seiring sekolah-sekolah mulai melihat hasil awal dari asesmen nasional berbasis peserta didik itu. Di banyak ruang guru, obrolan tentang nilai Matematika yang “anjlok bareng-bareng” menjadi topik yang sulit dihindari. Fenomena ini bukan sekadar isu angka, tetapi cermin yang memantulkan kondisi riil pembelajaran kita.
TKA hadir sebagai alat ukur akademik yang seragam secara nasional. Tidak lagi bergantung pada standar penilaian masing-masing sekolah, melainkan memakai satu perangkat soal yang sama untuk seluruh Indonesia. Fungsinya pun bukan menentukan kelulusan, melainkan membaca kemampuan berpikir siswa—dari memahami teks, memaknai grafik, hingga memecahkan masalah nyata.
Namun, ketika hasil awalnya muncul, banyak sekolah terkesiap. Bahkan sekolah-sekolah favorit yang biasanya percaya diri pada capaian akademiknya ikut melaporkan nilai jauh di bawah ekspektasi. Menurut pengamat pendidikan Najeela Shihab, ini menunjukkan bahwa pembelajaran di sekolah masih terlalu menekankan latihan pola soal daripada pemahaman konsep. “Anak-anak bisa mengerjakan soal yang serupa, tapi tersandung ketika berhadapan dengan konteks nyata,” ujarnya.
Pada TKA Matematika, banyak soal ditulis dalam bentuk cerita panjang, disertai tabel, ilustrasi, dan grafik. Ini membuat kemampuan membaca memegang peranan kunci. Begitu literasi lemah, numerasi tak punya panggung untuk muncul. Pakar literasi Prof. Nurhadimenegaskan bahwa penalaran bukan hanya menghitung, tetapi juga memahami informasi secara rinci. Banyak siswa “kehilangan arah” bahkan sebelum berhitung dimulai.
Hasil TKA akan diumumkan resmi akhir Desember hingga awal Januari 2026, lengkap dengan Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) yang dapat digunakan untuk seleksi berikutnya. Bagi siswa, dokumen ini bisa menjadi bahan refleksi, bukan vonis.
Lebih jauh, TKA 2025 kembali menegaskan bahwa dua fondasi pendidikan Indonesia—literasi dan numerasi—belum berdiri kokoh. Literasi yang kuat memungkinkan siswa menafsirkan gagasan dan mengambil kesimpulan. Numerasi membantu mereka memecahkan masalah nyata. Tanpa keduanya, belajar hanya berubah menjadi rutinitas hafalan yang cepat hilang.
Menurut Prof. Totok Amin Soefijanto, inilah akar dari kesenjangan capaian belajar yang tampak dalam hasil TKA. “Jika fondasinya rapuh, sekuat apa pun latihan soal tidak akan menyelesaikan masalah,” katanya.
Namun, situasi ini tidak seharusnya menjadi ajang saling menyalahkan. Banyak guru telah bekerja keras di tengah kurikulum yang terus berubah, beban administrasi, dan minimnya pelatihan soal berbasis penalaran. Justru momen ini bisa menjadi kesempatan bersama untuk berbenah.
Guru dapat mulai memperkuat pembelajaran berbasis pemahaman konsep, diskusi, proyek, dan pemecahan masalah nyata. Di rumah, orang tua bisa menumbuhkan kebiasaan membaca dan berhitung melalui kegiatan sederhana: mengajak anak membaca artikel, menafsirkan grafik kecil, atau menghitung belanja harian.
Sementara itu, masyarakat juga perlu membangun ekosistem literasi—dari perpustakaan publik yang ramah anak hingga ruang-ruang berbagi pengetahuan di lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, rendahnya nilai TKA bukan garis akhir. Ia adalah penanda, alarm yang mengingatkan bahwa kita harus bergerak bersama memperkuat fondasi belajar anak-anak. Jika momentum ini digunakan dengan baik, TKA bisa menjadi titik balik menuju pendidikan yang lebih bermakna bagi generasi Indonesia berikutnya.
Komentar Terbaru