Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) melakukan kunjungan kerja ke SMA Negeri 1 Taman (SMANITA), Sidoarjo, Senin (12/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Mendikdasmen didampingi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan berkesempatan meninjau berbagai hasil karya kokurikuler dan seni murid serta guru.
Kedatangan Mendikdasmen disambut hangat oleh anggota Putra-Putri SMANITA (PPS) melalui prosesi pengalungan sarung. Setelah penyambutan, rombongan diajak berkeliling mengunjungi sejumlah stan gelar karya yang menampilkan kreativitas, keterampilan, dan inovasi warga sekolah.
Stan pertama menyuguhkan karya fotografi hasil jepretan Bu Lucia. Deretan foto yang dipamerkan didominasi potret close-up serangga dengan detail yang menarik. Mendikdasmen tampak antusias mengamati foto-foto tersebut dan melontarkan sejumlah pertanyaan mengenai proses pengambilan gambar hingga cerita di balik objek yang diabadikan.
Perjalanan berlanjut ke stan kedua yang memamerkan hasil karya kokurikuler dan seni murid. Beragam produk ditampilkan, di antaranya sabun berbahan dasar minyak jelantah serta sketsa hitam putih menggunakan pensil di atas kertas berukuran A3. Karya-karya tersebut menunjukkan upaya murid dalam mengembangkan kreativitas sekaligus mengolah bahan yang tersedia menjadi produk bernilai guna.
Di stan ketiga, perhatian rombongan tertuju pada deretan buku hasil karya murid. Beragam karya sastra dipamerkan, mulai dari antologi puisi, cerita pendek (cerpen), hingga pentigraf atau cerita pendek tiga paragraf. Karya-karya tersebut menjadi bukti tumbuhnya budaya literasi dan ruang ekspresi bagi murid untuk menuangkan gagasan melalui tulisan.
Stan keempat menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam kunjungan tersebut. Berbagai motif batik khas Sidoarjo terpajang dengan corak yang unik. Di stan inilah Mendikdasmen berdialog dengan Bu Ika Yunita, S.Si., pencipta aplikasi ART-MATIKS (Aplikasi Redesain & Transformasi Matematika Batik Sidoarjo).
Mendikdasmen tertarik mengetahui cara kerja aplikasi tersebut, mulai dari proses perancangan motif hingga penerapannya pada kain. Melalui ART-MATIKS, murid dapat menghasilkan pola dasar batik dengan memanfaatkan konsep matematika. Pola yang telah dirancang selanjutnya dibawa ke percetakan untuk diwujudkan menjadi kain batik cetak.
Inovasi ini memperlihatkan bagaimana pembelajaran matematika dapat dikembangkan secara kreatif dan kontekstual, sekaligus dipadukan dengan seni serta kekayaan budaya lokal Sidoarjo.
Apresiasi terhadap inovasi tersebut juga datang dari Pak Aries yang turut mengunjungi stan batik. Saat mendekati stan, perhatiannya langsung tertuju pada kain batik yang dipajang. Ia mengamati cukup lama, memegang, dan membolak-balik kain tersebut sebelum menanyakan proses pembuatannya.
“Ini hasil karya anak-anak melalui aplikasi ART-MATIKS (Aplikasi Redesain & Transformasi Matematika Batik Sidoarjo)?” tanyanya.
“Betul, Pak,” jawab Bu Ika.
Bu Ika kemudian menjelaskan tahapan pembuatan batik, sembari menunjukkan pola dasar yang dihasilkan murid melalui aplikasi ART-MATIKS. Pola digital tersebut selanjutnya diproses di percetakan hingga menjadi kain batik yang siap dipamerkan.
Setelah melihat hasilnya, Pak Aries menyampaikan apresiasi terhadap inovasi tersebut. Ia juga memberikan saran agar karya itu memperoleh perlindungan kekayaan intelektual.
“Bagus ini inovasinya. Daftarkan HAKI, sayang kalau tidak,” ujarnya.
Saran tersebut menjadi dorongan bagi pengembangan dan perlindungan inovasi pendidikan yang mengintegrasikan teknologi, matematika, seni, dan budaya lokal.
Usai mengunjungi berbagai stan gelar karya, Mendikdasmen meluangkan waktu untuk bercengkerama dengan anggota PPS yang sebelumnya menyambut kedatangannya. Suasana berlangsung hangat dan akrab, memberikan kesempatan kepada para murid untuk berinteraksi langsung dengan Mendikdasmen.
Kunjungan kerja ini menjadi momentum bagi SMAN 1 Taman untuk menunjukkan beragam potensi murid dan guru, mulai dari fotografi, keterampilan mengolah bahan bekas, literasi sastra, hingga inovasi pembelajaran berbasis teknologi.
Melalui gelar karya tersebut, SMANITA memperlihatkan bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui pengalaman berkarya, berkolaborasi, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Inovasi ART-MATIKS menjadi salah satu contoh bagaimana matematika dapat hadir dalam bentuk yang kreatif sekaligus memperkuat apresiasi terhadap identitas budaya daerah.
Komentar Terbaru