Sabtu, 07 Nov 2026
  • SELAMAT DATANG di Official Site SMA Negeri 1 Taman Sidoarjo Jawa Timur

Menghidupkan Kembali Penjurusan SMA, Mengapa Tidak Sekolahnya Sekalian Dikelompokkan?

oleh : Yupiter Sulifan, M.Psi

Beredar kabar rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menghidupkan kembali penjurusan di jenjang SMA mulai tahun ajaran 2027/2028 patut diapresiasi. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa jurusan IPA, IPS, dan Bahasa akan kembali dibuka, dengan kemungkinan adanya modifikasi sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.

Kebijakan ini tentu memiliki tujuan baik. Salah satunya adalah memperkuat fondasi keilmuan siswa agar lebih siap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sesuai bidang pilihannya.

Namun, ada satu hal yang menarik untuk dipikirkan lebih jauh. Jika pemerintah memang ingin mengembalikan penjurusan SMA, mengapa tidak sekalian mengelompokkan sekolah berdasarkan jurusannya?

Artinya, bukan dalam satu SMA terdapat tiga jurusan sekaligus, melainkan ada SMA yang secara khusus menyelenggarakan pendidikan IPA, SMA khusus IPS, dan SMA khusus Bahasa.

Konsepnya kurang lebih seperti SMK. Kita mengenal SMK Teknik, SMK Tata Boga, SMK Tata Busana, hingga SMK Perhotelan. Calon siswa sejak awal sudah memiliki gambaran akan masuk ke sekolah mana sesuai minat dan cita-citanya.

Bayangkan jika kebijakan serupa diterapkan di SMA. Misalnya, SMAN 1 Taman menjadi SMA dengan konsentrasi keilmuan IPA, sementara sekolah negeri lainnya mengembangkan kekhususan IPS dan Bahasa.

Menurut saya, gagasan ini justru dapat menjadi solusi atas persoalan klasik dalam penjurusan SMA.

Selama ini, ketika IPA, IPS, dan Bahasa berada dalam satu sekolah, tidak jarang muncul anggapan bahwa jurusan IPA lebih bergengsi dibandingkan jurusan lainnya. Ada semacam stigma bahwa anak yang pintar harus masuk IPA. Akibatnya, sebagian orang tua berusaha keras memasukkan anaknya ke jurusan tersebut, meskipun minat dan kemampuannya lebih sesuai dengan IPS atau Bahasa.

Belum lagi potensi penyalahgunaan kewenangan melalui praktik titipan dari pihak-pihak tertentu. Penempatan siswa ke jurusan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan minatnya bisa menjadi persoalan tersendiri.

Jika sekolah sudah dikelompokkan berdasarkan bidang keilmuan, ruang untuk praktik semacam itu setidaknya dapat dipersempit. Calon siswa memilih sekolah berdasarkan minat, bakat, dan rencana masa depannya, bukan sekadar mengejar gengsi sebuah jurusan.

Tentu, gagasan ini membutuhkan kajian matang. Pemerintah harus memperhatikan pemerataan fasilitas, kualitas guru, akses pendidikan, serta mekanisme perpindahan siswa agar tidak membatasi kesempatan mereka berkembang.

Pada akhirnya, pendidikan SMA bukan perlombaan untuk masuk jurusan IPA, IPS, atau Bahasa. Setiap bidang keilmuan memiliki kedudukan penting dan peluang masa depan masing-masing.

Mengembalikan penjurusan seharusnya bukan sekadar menghidupkan kembali nama-nama jurusan lama. Lebih dari itu, pemerintah perlu membangun ekosistem pendidikan yang benar-benar menghargai keberagaman minat dan potensi siswa.

Jangan sampai penjurusan hanya berganti nama, tetapi persoalan lamanya tetap terpelihara. Jika memang ingin menata ulang penjurusan SMA, mengapa tidak sekalian menata sekolahnya?

Penulis adalah guru Bimbingan dan Konseling

KELUAR