Jumat, 23 Feb 2024
  • SELAMAT DATANG di Official Site SMA Negeri 1 Taman Sidoarjo Jawa Timur

Generasi Strawberry, Generasi Kreatif Nan Rapuh

 “Gua anak umur 21, gak nyangka ternyata kuliah itu seburuk itu untuk mental health, semester 1 kemarin gua udah dihujanin materi sama tugas yang bener2 banyak, akibatnya waktu gua untuk healing sama self reward jadi kurang banget. Yang tadinya gua masih bisa nonton netflix sama chat-chat-an dengan bestie sekarang jadi susah banget. Gua kayaknya belum siap kuliah deh. Gua udah ngomong ke ortu kalau gua mau cuti dulu semester ini. Gua mau fokus healing selama 6 bulan dulu. Tapi ortu gua malah ga setuju, bahkan gua dibilang manja. Gua bingung mau gimana takutnya kalau paksain ipk ku malah tambah anjlok. Gua juga susah komunikasikan ini ke ortu karena mereka ga aware sama mentalhealth kaya gua. Gua mesti gimana….??? (dan diakhiri dengan emot menangis)”.

Paragraf di atas merupakan cuitan twitter salah satu mahasiswa semester 2 (dua) yang sempat viral beredar akhir-akhir ini di beberapa platform media sosial seperti facebook dan instagram, yang akhirnya menimbulkan pembahasan bagi khalayak mengenai istilah yang dianggap baru tentang generasi muda sekarang ini (generasi di bawah millenial) yakni strawberry generation / generasi strawberry.

Istilah strawberry generation pada mulanya muncul dari negara Taiwan, istilah ini ditujukan pada sebagian generasi baru yang lunak seperti buah strawberry. Pemilihan buah strawberry untuk penyebutan generasi baru ini juga karena buah strawberry itu tampak indah dan eksotis, tetapi begitu dipijak atau ditekan ia akan mudah sekali hancur.

Menurut Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya dan dalam salah satu kesempatan kuliah online melalui streaming youtube beliau, strawberry generation adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Definisi ini dapat kita lihat melalui laman-laman sosial media. Begitu banyak gagasan- gagasan kreatif yang dilahirkan oleh anak-anak muda, sekaligus pula juga tidak kalah banyak cuitan resah penggambaran suasana hati yang dirasakan oleh mereka.

Sebagai seorang pendidik, Prof. Renald Kasali mencoba mempelajari fenomena ini agar jangan sampai menjadi seperti fenomena flexing yakni crazy rich bohong-bohongan dan lain sebagainya. Analisis mengapa dapat muncul fenomena seperti ini dijabarkan Prof. renald kasali setidaknya karena 4 (empat) hal yakni :

  1. Self diagnosis terlalu dini tanpa melibatkan pihak yang ahli.

Banyak sekarang yang menjadi orang pintar. Anak muda sekarang amat luar biasa, banyak informasi beredar di sosial media dan sebagaianya dan mereka menyerapnya seperti spons yang menyerap air. Kita terpapar informasi-informasi yang kadang belum tentu tepat. Kemudian mencoba mencocok-cocokkan apa yang terjadi kepada dirinya dengan apa yang dikatakan dalam sosial media. Karena cocok kemudian mereka merasa bahwa mereka tertekan, stress dan bahkan depresi kemudian mengatakan : “Ah saya butuh healing”. Padahal alih-alih healing, kata yang lebih tepat digunakan bagi sebagian besar orang sebetulnya adalah “refresing”.

Padahal healing itu tidak sesederhana yang diucapkan, healing merujuk merupakan sebuah proses yang diperlukan untuk mengatasi sebuah luka psikologis di masa lalu yang biasa kita sebut sebagai luka batin. Healing merupakan proses kompleks untuk penyembuhan atau pengobatan. Ada sebuah kejadian di masa lalu yang membekas dan tentu saja ada proses yang harus dilakukan untuk kesembuhannya sehingga kita dapat menjadi lebih baik lagi di masa depan.

Tetapi karena sekarang ini media sosial memberikan informasi yang sangat kaya maka kita merasa bisa memecahkan masalah kita sendiri. Ini adalah self diagnosis yang tidak hanya terjadi pada orang muda tetapi sangat mungkin terjadi pada generasi yang lebih tua. Contoh mudah adalah ketika kita merasakan keluhan pada tubuh kemudian kita tidak mencoba memeriksanya tetapi cuma mencari-cari informasi melalui internet dengan membabi buta, ini malah akan menjadikan kita overthingking dan overdiagnosis.

Jenis overthinking yang dialami oleh kaum muda dengan usia sekitar 25 tahun disebut sebagai quarter life krisis. Quarter life krisis tidak dialami oleh para generasi tua jaman dahulu karena hidupnya memang pada umumnya sedang berjuang dan susah. Tetapi anak muda jaman sekarang mudah cemas ketika melihat temannya pada usia 25 tahun sudah menikah, punya anak, punya karir yang terlihat baik sudah punya mobil dan lain-lain. Kemudian sosial media sekarang ini menjadikan pencapaian-pencapaian itu mudah sekali dipublikasikan dan menjadikan kecemasan berlebih pada sebagian kaum muda lainnya yang belum dapat mencapainya.

Overthingking tersebut membuat anak muda sekali lagi dengan mudah mengatakan bahwa mereka butuh healing karena kepenatan-kepenatan akibat banjirnya informasi pada media sosial, yang tidak dapat mereka saring dengan baik.

  1. Cara orang tua mendidik terkait kondisi keluarga dimana anak dibesarkan dalam situasi yang lebih sejahtera dibandingkan generasi sebelumnya.

Tentu saja banyak yang kehidupannya masih susah, tetapi tidak dapat dipungkiri kehidupan sekarang pada umumnya lebih sejahtera daripada beberapa dekade yang lalu. Dibesarkan dalam keluarga yang sejahtera mesti disyukuri tetapi berakibat juga pada beberapa hal. Pada keluarga yang sejahtera orangtua mempunyai kecenderungan memberikan apa yang diminta oleh anak-anaknya. Kemudian orangtua biasanya memberikan kompensasi waktu yang lebih sedikit dengan uang atau benda-benda material lainnya. Padahal waktu seharusnya tidak dapat dikompensasi, dan orangtua harus tetap menyempatkan perhatian untuk anak-anaknya. Yang berikutnya adalah orangtua sudah tidak terbiasa menghukum anak atau kalau dalam istilah lain memberikan konsekuensi atas kesalahan-kesalahan anaknya.

Kekeliruan orangtua berikutnya adalah setting unrealistic expectation. Orangtua sering menyebut anaknya princess, prince, anak paling hebat dan lain sebagainya. Padahal dalam kenyataannya nanti dalam kehidupan, anak-anak ini akan menghadapi situasi lebih besar dan lebih sulit daripada lingkungan amannya di rumah dimana akan ada orang-orang yang lebih hebat dan pandai dari diri mereka. Akibatnya anak-anak ini kemudian akan lebih mudah kecewa dan lebih mudah tersinggung karena perbedaan kondisi di dalam dan di luar rumah.

  1. Narasi-narasi orangtua yang kurang berpengetahuan.

Pada generasi jaman sebelumnya, relatif tidak ada orangtua yang mengatakan anaknya itu moody (relatif mudah berubah-ubah mood). Akhir-akhir ini jumlah orangtua yang mengatakan anaknya moody makin meningkat. Ada akibat penyebutan moody dari orangtua untuk anaknya yakni setelah anak-anak itu besar nanti mereka akan mudah menyebut dirinya sendiri gampang berubah-ubah mood (percaya pada label tersebut).

  1. Banyak generasi masa kini yang lebih mudah untuk lari dari kesulitan.

Padahal kemenangan dari seseorang itu adalah jika ia bisa memanage semua kesulitan-kesulitan atau obstacle tersebut. Contoh cuitan twitter mahasiswa semester 2 tersebut bisa diartikan bahwa yang bersangkutan kurang dapat melewati kesulitan-kesulitan yang dihadapinya dalam kehidupan perkualiahan.

Kemudian Prof. Renald Kasali memberikan beberapa alternatif solusi atas fenomena tersebut di atas yakni :

  1. Anak2 muda perlu selalu memperbaharui literasinya. Di jaman informasi sangat cepat beredar saat ini, kita amat perlu memvalidasi kebenaran dari setiap informasi dengan berbagai cara, misalnya membaca-baca buku yang sesuai.
  2. Hati-hati dalam melakukan self diagnosis, hadapilah sebuah situasi dengan sekuat tenaga karena ujian merupakan hal yang biasa terjadi. Hati-hati terhadap perangkap sosial media. Hati-hati karena sosial media juga bisa membuat orang menjadi caper dan menceritakan masalah yang dihadapinya, kadang dengan melebih-lebihkan sesuatu.
  3. Peranan orangtua : orangtua harus berperan agar anaknya menjadi generasi yang lebih baik dari dirinya. Jangan terlalu memanjakan anak dengan berlebihan. Berikan konsekuensi jika anak melakukan kesalahan. Mari kita memberi pemahaman akan banyak hal kepada anak-anak, berdampingan dengan teori pengetahuan. Keberhasilan anak-anak ke depan bukan sekedar dari pengetahuan, tetapi generasi berikutnya perlu menjadi orang yang eksploratif.
  4. Peranan pendidik : sebagai pendidik harus dapat mengembangkan situasi yang menyenangkan dalam pelajaran. Keberhasilan pada kehidupan tidak sekedar berdasar dari nilai yang bisa dicapai di kelas, mereka yang juara di kelas belum tentu akan menjadi juara dalam kehidupan.

Peranan generasi muda dalam menjawab tantangan zaman.

Salah satu perbedaan karakteristik yang signifikan pada generasi Z (generasi di bawah millenial) dan beberapa generasi sebelumnyaadalah pada penguasaan teknologi. Setiap generasi punya cara tersendiri untuk berekspresi baik dalam hal berkarya dan memilih karir hidup kedepannya. Generasi hari ini tumbuh dengan kemudahan instan yang ditawarkan oleh teknologi. Hal itu juga menjadikan generasi hari ini punyai cara berbeda dalam memilih dan menunjukkan bakatnya untuk melahirkan hal-hal bermanfaat untuk sekitarnya. Beberapa tampilan sosial media dapat kita hidupkan kembali dengan konten yang bermanfaat.

Generasi hari ini dipandang sebagai generasi rebahan, namun dengan kemajuan teknologi mereka dapat berkontribusi dan bahkan memantik perubahan. Teman-teman muda yang hobinya bermain Tiktok dapat menyalurkan bakatnya dalam hal marketing produk. Gagasan kreatif anak muda hari ini dapat bisa menggeser promotional trends yang sebelumnya menggunakan poster dan media cetak lainnya. Teman teman yang passion-nya berorganisasi dapat bisa membuat kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, terlebih dalam masa pandemi saat ini.

Menumbuhkan mental strawberry menjadi mental tangguh.

Dalam salah satu jurnal yang mendeskripsikan tentang buah strawberry, dijelaskan bahwa buah satu ini adalah buah semu yang berarti bukan buah yang sebenarnya. Begitu juga pada generasi hari ini, mental strawberry adalah mental semu yang bukan sebenarnya dimiliki oleh generasi kita (generasi Z/generasi muda). Generasi yang tangguh merupakan generasi yang berjalan pada poros optimisme masa depan yang lebih baik.

Kita percaya bahwa saat ini prestasi akademik tidak sepenuhnya menjamin masa depan. Disiplin ilmu yang kita pelajari melalui ruang kelas belum tentu dibutuhkan lagi dimasa depan, termasuk apa yang kita pahami hari ini belum tentu dapat bisa relevan dengan permasalahan dimasa depan.

Anies Baswedan dalam satu sambutannya pernah mengatakan, anak muda hari ini tidak perlu lagi diberi pertanyaan akan menjadi apa dimasa depan, tetapi anak muda hari harusnya diberi pertanyaan akan membuat apa dimasa depan. Anak muda hari ini sebenarnya sudah memiliki segalanya yaitu kreatifitas, inovasi dan sikap adaptif. Sikap adaptif, mampu beradaptasi dalam segala bentuk perubahan. Dimana kemajuan zaman tidak dapat kita bendung. Dengan sikap adaptif kita akan mencoba belajar kembali hal – hal baru diluar apa yang sebelumnya kita sudah pahami.

Inovatif dan kreatif, mampu memanfaatkan keterbatasan menjadi peluang yang menciptakan kebermanfaatan. Anak muda tidak perlu diragukan lagi akan hal ini. Kemajuan teknologi dan informasi membuat anak muda lebih punya banyak referensi untuk berkarya. Beragam inovasi yang dilahirkan dengan memanfaatkan media sosial sudah lebih awal di banjiri oleh tangan-tangan pemuda. Namun memang hal ini perlu di optimalkan kembali dengan kemampuan literasi digital yang baik, agar berbagai informasi yang dibuat dapat lebih bisa menjaring permasalahan dan mampu memberikan kebermanfaatan.

Kolaborasi generasi Z (generasi muda) dengan generasi yang lebih tua di lingkungan kerja.

Kita paham bahwa tantangan kedepan akan makin kompleks dan juga berat, namun rasa optimisme akan mampu membawa kita untuk terus berjalan kedepan. Insyaallah anak muda pasti bisa.

Salah satu pemicu terbesar masalah generation gap adalah perbedaan cara komunikasi antara pekerja muda dengan pekerja dari generasi terdahulu. Gaya komunikasi gen X dan baby boomer cenderung lebih kaku dan formal. Sebaliknya, pekerja millennial dan Gen Z terbiasa dengan cara komunikasi yang casual, informal, dan santai. Di sini kita harus mulai bisa mengatasi generation gap yang akan terjadi.

Bagi pekerja muda, tidak ada salahnya jika lebih aktif pula membuka komunikasi yang baik dengan atasan maupun rekan sekerja. Walau atasan Anda kemungkinan besar adalah generasi lebih senior dengan karakter berbeda, bukan berarti mereka tidak bisa diajak bicara dengan gaya kekinian. Ini adalah salah satu cara mengatasi generation gap sehingga bisa tercipta kerjasama yang baik antar generasi di tempat kerja.

Generasi lebih tua yang terkenal lebih tangguh secara mental dapat memberikan konseling dan pendampingan kepada generasi muda, lebih jauh lagi memberi teladan/contoh yang nyata mengenai kekuatan menghadapi tekanan. Sebaliknya, generasi muda yang lebih luwes dalam masalah perkembangan jaman terutama teknologi dan ide kreatif dapat memberikan sumbangsih kemampuannya untuk kemajuan tujuan bersama sebuah instansi.

Penyusun : Ratih Prihatina / Pelaksana Seksi Hukum dan Informasi KPKNL Pekalongan

Sumber :

(1)     Kasali, Renald. 2018. Strawberry Generation, Mengubah Generasi Rapuh menjadi Generasi Tangguh.

(2)     https://lpmpendapa.com/opini/strawberry-generation-generasi-pembawa-perubahan.

(3)     https://avrist.com/lifeguide/2020/01/30/6-cara-mengatasi-generation-gap-di-tempat-kerja.

Sumber : https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-pekalongan/baca-artikel/14811/Generasi-Strawberry-Generasi-Kreatif-Nan-Rapuh-dan-Peran-Mereka-Di-Dunia-Kerja-Saat-Ini.html

 

Post Terkait

HUT Ke-39 SMANITA
26 Nov 2023

HUT Ke-39 SMANITA

15 Komentar

Dinda Untari Kusuma Wardhani, Senin, 15 Jan 2024

Menurut saya penyebab awal dari munculnya generasi strawberry adalah perubahan sosial dan lingkungan yang cepat dan kompleks. contohnya tuntutan dan tekanan yang tinggi dari lingkungan sekitar dapat memengaruhi kesejahteraan mental mereka dan bagi saya cara agar tidak menjadi generasi strawberry adalah mempelajari keterampilan hidup dan pendidikan karakter

Balas
Izyan Ardiansyah Putra Hadianto (XI - F4), Senin, 15 Jan 2024

Sebenarnya labelling strawberry ini benar adanya bahwa generasi milenial zaman sekarang terutama gen z adalah orang orang yang memiliki banyak informasi dan mereka sangat mudah menyerap informasi tersebut, tetapi sayangnya kekurangan mereka adalah orang orang yang mudah mengeluh dan sedikit sedikit minta “healing”, yang membedakan generasi sebelumnya dengan yang sekarang adalah kerasnya kehidupan yang dijalani generasi sebelumnya tidak dirasakan oleh generasi z sekarang

Balas
Tantrana Cinta Veliansyah, Senin, 15 Jan 2024

Generasi Strawberry adalah sebutan bagi generasi Z yang dikatakan mempunyai kreativitas tinggi tapi mudah jika terinjak (lembek). Alasan dari munculnya generasi ini bermacam-macam, bisa karena lingkungannya. Saya setuju jika dikatakan pada generasi akhir-akhir ini banyak yang mempunyai mental mudah down seperti ini, tapi bukan berarti artinya generasi dahulu lebih kuat, karena mungkin saja yang dirasakan generasi lama dan baru tidak jauh berbeda tapi karena adanya perbedaan akses terhadap informasi yang membuat orang generasi dahulu tidak terlihat lemah seperti generasi sekarang. Saran saya sudah seharusnya kita terbuka dengan masalah mental asal jangan self diagnosis, dan kita tetap harus berusaha untuk bangkit tiap kali mendapat masalah.

Balas
Tariz Darin N., Senin, 15 Jan 2024

Menurut saya, benar adanya jika generasi muda zaman zekarang memiliki mental health yang lebih lemah dibandingkan generasi sebelum-sebelumnya. Solusi yang bisa diterapkan adalah orang tua bisa mengawasi, mengenali, dan memastikan pergaulan anak adalah pergaulan yang baik, bukan pergaulan dengan anak-anak yang suka dimanja dan bisanya hanya mengeluh.

Balas
Ridwan Yudia Ardana, Senin, 15 Jan 2024

menurut sayaa untuk generasi strawbery saya rasaa mungkin jauh lebih beda dibawah generasi dibawah gen z, karena pada dasarnya generasi z atau strawbery generation ini jauh lebih beda dikarenakan kalangan orang orang generasi z karenaa haruss memiliki kreativitas yang tinggi mungkin saja ada kalangan yang mudah ngeluh, kita harus merubah sikap yang malas, lebih ditingkatkan cara pola berfikir, bernalar kritis, dikalangan genereasi kita, kita harus semangatt untuk mencari cari ide yang cemerlang untuk masa yang akan datang.

Balas
Akmad Zakiyyun Nafsi Romadlon, Senin, 15 Jan 2024

Silahkan kalian baca lalu beri solusi ttg Bagaimana seharusnya sikap siswa ttg label generasi strawbery ini?

Menurut saya Siswa seharusnya menghadapi label “generasi strawberry” dengan sikap positif dan membuktikan bahwa mereka mampu mengatasi tantangan. Fokus pada pengembangan diri, ketahanan mental, dan kemampuan mengatasi kesulitan dapat membantu mereka mengubah persepsi negatif tersebut.

Balas
Eka Riris Chusnul (09) - XI F4, Senin, 15 Jan 2024

Menurut saya dengan permasalahan yang terjadi diatas, peranan orang tua, peranan tenaga pendidik memang sangat penting dalam kasus diatas tetapi kembali lagi dengan individu tersebut, saya kurang setuju dengan sebutan generasi strawberry. Setiap orang memang memiliki cara sendiri untuk menghadapi semua masalah, tetapi ketika kita sudah memulai suatu hal maka harus diselesaikan sebagaimana mestinya. Kesadaran emosional juga sangat penting, menurut saya emosional sangat berpengaruh dalam mengambil keputusan.

Balas
Stella Aisyah (XI-F4/30), Senin, 15 Jan 2024

Menurut saya pribadi, istilah “mental health” yang sedang tren belakangan ini memang menjadi sedikit penghalang untuk generasi kita dalam berkembang. Saya sangat setuju dengan hal-hal yang dipaparkan di atas. Seperti yang dijelaskan di atas, kita hidup di jaman yang lebih sejahtera jika dibandingkan generasi sebelumnya, pun didukung dengan teknologi yang maju. Dengan hal ini menjadikan gen Z sebagai generasi yang kreatif dan memiliki tingkatan intelektual yang tinggi. Namun, permasalahan akan “mental health” ini membuat orang-orang dari generasi kita takut akan menghadapi sesuatu. Terlebih lagi narasi-narasi mengenai “mental health” yang tersebar di sosial media dan apabila audiens merasa setuju dengan hal yang diunggah, hal ini lah yang mendorong maraknya “self diagnose”. Menurut pandangan saya, self diagnose ini sangatlah berbahaya, tidak sedikit orang melakukan hal-hal berbahaya karena merasa dirinya mengidap suatu penyakit psikologis hanya berdasarkan self diagnose. Memang benar, setiap orang memiliki tingkatan “benteng” yang berbeda dalam menghadapi permasalahan yang menimpanya, namun apabila kita merasa sudah berada di titik puncak psikologis, lebih baik kita datang berobat kepada ahlinya.

Balas
Much.Radhitya Irfansyah / XI - F4 / 17, Senin, 15 Jan 2024

menurut saya istilah label generasi strawberry ini hanya untuk para pelajar yang cepat menyerah dalam mengerjakan / mengejar suatu pendidikan atau pencapaian, seharusnya jika para pelajar tidak mudah putus asa dan loyo dalam mengerjakan sesuatu pasti tidak akan ada istilah generasi strawberry ini, saya setuju dengan artikel diatas yang menyebutkan “sikap pelajar zaman sekarang itu sudah punya semuanya seperti kreativitas, inovatif dan lain lain, tapi sayangnya rasa malas dan cepat putus asa yang menjadikan pelajar zaman sekarang jadi loyo dan tidak bersemangat dalam mengejar sesuatu” sebagai pelajar harusnya dapat mengerjakan sesuatu tanpa putus asa dan tentunya harus semangat dalam mengejar cita cita

Balas
M. Abiyyu Rizqi, Senin, 15 Jan 2024

Mungkin memang benar, apa yang sudah disampaikan pada artikel ini terkait tentang generasi Z yang memiliki mental seperti buah strawberry. Saya sendiri sebagai gen Z mengakui akan hal itu, dan terkadang saya dan beberapa teman saya juga melakukan hal hal yang disebutkan di artikel ini, akan tetapi balik lagi ke pribadi masing masing anak, tidak semua anak gen Z mengalami hal itu. Saya bisa mengatakan begitu karena kita sebagai gen Z juga memiliki latar belakang yang berbeda beda yang sehingga membuat pembentukan sikap yang berbeda beda sesuai dengan latar belakang yang ada. Jadi menurut saya pada generasi Z atau yang disebut generasi strawberry ini tidak selalu memiliki mental yang lemah dan sikap yang manja akan tetapi ada juga beberapa anak generasi Z juga yang memiliki mental dan sikap yang seperti itu.

Balas
Reyfani nazuwa, Senin, 15 Jan 2024

mengenai generasi strawberry untuk penyebutan karakter gen z saat ini memang sgt cocok karena banyak bagian dari kami yang merasa mudah merasa sakit hati , dan lebih mudah menyerah entah apa penyebabnya pasti tetapi menurut saya sebagian dari gen z pasti merasa seperti itu

Balas
fabhian, Senin, 15 Jan 2024

menurut saya hal tersebut kurang disetujui karena adanya perbedaan dalam suatu tanggapan karena perbedaan zaman ataupun generasi yang berbeda. orang tua dapat merupakan generasi sandwich yang memikul beban anak dan orang tuanya sendiri. tanpa kenal lelah mereka mencari nafkah untuk menghidupi keluarga walaupun kelelahan mereka tetap bekerja tanpa memikirkan keadaan mereka. hal tersebut lah yang membuat adanya perbedaan dalam sebuah generasi

Balas
fabhian, Senin, 15 Jan 2024

menurut saya hal tersebut kurang disetujui karena adanya perbedaan dalam suatu tanggapan karena perbedaan zaman ataupun generasi yang berbeda. orang tua dapat merupakan generasi sandwich yang memikul beban anak dan orang tuanya sendiri. tanpa kenal lelah mereka mencari nafkah untuk menghidupi keluarga walaupun kelelahan mereka tetap bekerja tanpa memikirkan keadaan mereka. hal tersebut lah yang membuat adanya perbedaan dalam sebuah generasi nahh begituu menurut saya

Balas
MUHAMMAD WAHYU UTOMO, Senin, 15 Jan 2024

Saya setuju jika strawberry generation saat ini sangat rentan terhadap suatu bentakan atau sesuatu yang berbasis emosional. Menurut saya, solusi yang dapat di ambil untuk melurus kan atau melatih agar mental strawberry generation ini dapat jauh lebih kuat adalah. Mungkin dari pihak sekolah sendiri dapat mengadakan pencerahan atau dakwah yang bertopik tentang mental healthy agar strawberry generation tidak merasa putus asa dan selalu percaya diri dengan pilihan nya. 🫨🫏

Balas
Ferio Ilham B. P., Senin, 15 Jan 2024

Menurut saya, generasi sekarang tidak perlu diajari teknologi (kecuali dalam tingkat yang lebih lanjut). Karena dalam beberapa fakta anak muda lebih mahir dalam mempelajari teknologi, contoh anak muda yang bernama Arion Kurtaj. Disini saya ingin memberikan saran untuk mengatasi kelemahan dari generasi strawberry dengan cara menerapkan pendidikan yang berbasis semi taruna, karna dari sudut pandang manapun orang yang pernah mengalami pendidikan taruna akan berubah secara drastis dari segi …. dan …. jika individu atau pelatih melakukannya dengan benar, atau dengan cara menciptakan proyek keberlanjutan di sekolah secara efektif

Balas

KELUAR